Di saat gelombang perlawanan mahasiswa meluap di
berbagai penjuru negeri, berteriak lantang menagih janji penguasa dan menuntut
keadilan, BEM KM UBB justru memilih bungkam, tiarap, dan nyaman bersembunyi di
balik tembok dingin kampus. Tidak ada pergerakan, tidak ada aksi nyata, dan
tidak ada konsolidasi. Bahkan untuk sekadar membuka ruang diskusi publik saja,
mereka tampak gagap. Jakarta dan daerah-daerah lain sudah membara dengan deretan
tuntutan rakyat, tetapi BEM KM UBB malah adem ayem seolah-olah negara dan Bangka
Belitung sedang baik-baik saja tanpa masalah.
Pertanyaan paling mendasar yang harus
dilemparkan ke hadapan para pengurus hari ini adalah: BEM KM UBB sebenarnya sedang membela siapa?
Sebagai lembaga eksekutif tertinggi di tingkat
mahasiswa, BEM didirikan bukan hanya untuk mengurus agenda seremonial yang
tidak berdampak, membagi-bagi piala, atau sibuk merapikan konten media sosial
agar terlihat seolah-olah "aktif bekerja". BEM dibentuk untuk menjadi
motor pergerakan, pemantik garis depan, dan penyambung lidah rakyat yang
tertindas. Namun, apa yang diperlihatkan kepengurusan saat ini hanyalah sikap
"main aman" yang sangat memuakkan. Diam di tengah krisis sosial dan
politik bukanlah sebuah strategi diplomasi yang cerdas, melainkan bukti
telanjang dari hilangnya taring perjuangan dan tumpulnya kepekaan nurani.
Sikap apatis dan pengecut ini secara tidak
langsung sedang meracuni dan mematikan daya kritis seluruh mahasiswa UBB. Kita
seolah-olah dituntun untuk menjadi generasi penurut yang tuli, takut bersuara,
dan hanya sibuk dengan urusan perut sendiri. Padahal, kampus ini tidak pernah
kekurangan orang-orang pintar dan berani. Yang hilang dan langka hari ini
adalah pimpinan organisasi yang mau berdiri paling depan untuk memimpin barisan
perlawanan.
Jika kepengurusan BEM KM UBB saat ini memang sudah
tidak memiliki keberanian, takut akan sanksi, atau lebih memilih mengamankan
posisi dan relasi nyaman mereka, katakan saja secara jujur kepada seluruh
mahasiswa. Jangan biarkan jas almamater UBB hanya menjadi penonton bisu yang
memalu saat sejarah sedang ditulis oleh mahasiswa lain di seluruh Indonesia.
BEM KM UBB harus sadar bahwa jika terus-menerus memilih diam dan acuh, kalian
bukan lagi wakil mahasiswa, melainkan bagian dari masalah dan penindasan itu
sendiri. Bangun dari tidur panjang kalian, keluar dari zona nyaman, atau mundur
sekalian dari jabatan yang tidak mampu kalian emban!
Editor: Samuel
