Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Rumah Sendiri Masih Bocor: Untuk Apa BEM KM UBB Sibuk Menatap Luar?

Kamis, 20 Agustus 2026 | Agustus 20, 2026 WIB Last Updated 2026-08-20T13:07:24Z

 


Gerakan mahasiswa selalu memiliki tempat istimewa dalam sejarah perjalanan bangsa. Narasi tentang "penyambung lidah rakyat" dan "garda terdepan perubahan" seolah menjadi mantel kebanggaan yang selalu ingin dikenakan oleh Organisasi Mahasiswa (Ormawa), tidak terkecuali BEM KM UBB. Setiap kali dinamika sosial-politik memanas, baik pada ranah nasional maupun isu-isu daerah di Bangka Belitung, retorika dan ajakan untuk turun ke jalan menyuarakan hak-hak rakyat kerap muncul sebagai respons utama. Namun, jika kita sejenak menepi dari riuh-pikuk konsolidasi tersebut dan melihatnya dengan kacamata yang lebih objektif, timbul satu pertanyaan mendasar: Apakah ajakan aksi ini lahir dari kajian yang mendalam dan berakar, atau sekadar respons refleksif yang musiman?

 

 

Jika menelusuri narasi serta isu yang diangkat baik seputar kebijakan nasional maupun persoalan kedaerahan di Babel, pola seperti ini sejatinya bukanlah hal baru. Isu-isu yang digaungkan sering kali mengekor pada ritme atau narasi yang sudah lebih dahulu diangkat oleh BEM dari universitas-universitas ternama di ibu kota. Ketika gelombang wacana di pusat telah memuncak, BEM di daerah baru bergerak mengadopsinya. Fenomena ini memancing keraguan objektif dari kalangan mahasiswa UBB sendiri: Apakah BEM KM UBB benar-benar membawa riset independen yang matang terkait dampak isu nasional dan daerah terhadap masyarakat, ataukah ajakan turun ke jalan tersebut hanya bentuk Fear of Missing Out (FOMO) politik kampus agar terlihat tetap ada, kritis, dan relevan?

 

 

Menyuarakan hak rakyat atas isu daerah maupun nasional tentu bukan tindakan yang keliru. Namun, dorongan untuk bersuara ke luar terasa janggal ketika persoalan-persoalan dasar di lingkungan internal kampus sendiri masih menumpuk tanpa penyelesaian yang jelas. Mahasiswa UBB hari ini masih dihadapkan pada berbagai dinamika internal, mulai dari transparansi tata kelola kampus, fasilitasi kegiatan mahasiswa, ketersediaan dan kesiapan sarana prasarana pembelajaran, hingga efektivitas advokasi keluhan mahasiswa yang sering kali belum dirasakan dampaknya secara langsung oleh akar rumput.

 

 

Pertanyaan krusial yang perlu dijawab oleh pengurus BEM KM UBB adalah: Manakah yang seharusnya menjadi prioritas utama?

 

 

BEM KM diciptakan pertama kali sebagai wadah representasi dan pelindung kepentingan mahasiswa di dalam kampus (konstituen utamanya). Ketika rumah sendiri masih memiliki banyak celah dan masalah internal yang belum terselesaikan, memaksakan diri untuk selalu hadir pada setiap ajakan aksi eksternal justru berisiko mengaburkan fungsi mendasar tersebut. Logikanya sederhana: bagaimana mungkin sebuah lembaga mampu membela hak masyarakat luas secara efektif dan berkelanjutan jika hak serta kenyamanan mahasiswa di rumahnya sendiri belum teradvokasi dengan tuntas?

 

 

Kritik ini tidak bermaksud memadamkan daya kritis mahasiswa UBB terhadap isu-isu kebangsaan maupun daerah. Namun, gerakan mahasiswa yang dewasa adalah gerakan yang tahu menetapkan skala prioritas. Jangan sampai setiap ajakan turun ke jalan hanya menjadi agenda performatif atau pemenuhan portofolio kepengurusan semata.

 

 

Sudah saatnya BEM KM UBB melakukan evaluasi dan refleksi mendalam. Benahi dulu persoalan di dalam kampus, kawal kebijakan rektorat yang berdampak langsung pada mahasiswa, dan hadir secara nyata menyelesaikan masalah internal UBB. Setelah rumah kita tertata rapi dan kokoh, barulah setiap seruan dan langkah kaki menuju jalanan akan berdiri di atas pijakan yang benar-benar solid dan berintegritas, bukan sekadar mengekor tren.



Editor: Samuel

×
Berita Terbaru Update