Mahasiswa sekarang ini
tidak hanya perlu memahami materi yang diajarkan di kelas. Ada syarat untuk
memiliki nilai IPK yang baik, aktif dalam kelompok organisasi, melakukan
magang, menguasai berbagai keterampilan, memiliki sertifikat, membangun
jaringan hubungan, hingga membuat portofolio. Semua itu terasa seperti syarat
yang tidak diucapkan, agar dianggap sudah “siap kerja”. Tidak salah jika
mahasiswa ingin mengembangkan diri. Namun, ketika mahasiswa terus ditekan untuk
menjadi individu yang memiliki banyak kemampuan demi memenuhi kebutuhan dunia
kerja, pendidikan tinggi perlahan berisiko kehilangan maknanya sebagai tempat
belajar dan berpikir. Mahasiswa sekarang tidak hanya belajar untuk mengerti
ilmu, tetapi juga terus berusaha mencapai berbagai hal agar dianggap mampu dan
layak bekerja di dunia usaha.
Masalahnya bukan karena
mahasiswa yang harus beradaptasi dengan dunia kerja. Perubahan zaman memang
membutuhkan kemampuan untuk terus berkembang. Masalah muncul saat hampir
seluruh tugas mempersiapkan kerja jatuh ke bahu para mahasiswa. Ketika lulusan
kesulitan mencari pekerjaan, biasanya penyebabnya dianggap karena kurangnya
pengalaman, keterampilan, atau teman-teman yang bisa membantu. Mahasiswa lalu
diberi arahan untuk memperbaiki diri sendiri. Padahal, kemampuan seseorang
setelah lulus tidak hanya bergantung pada seberapa keras ia berusaha, tetapi
juga pada kualitas pendidikan yang diajarkan, peluang yang ada, serta suasana
dunia kerja yang dihadapi. Dalam situasi seperti ini, mahasiswa sering merasa
kesulitan dan bingung dalam mengambil keputusan. Fokus pada belajar dianggap
kurang berpengalaman, terlalu aktif dalam organisasi bisa mengganggu nilai
akademik, sedangkan mencari magang dan pengalaman kerja bisa mengurangi waktu
untuk belajar.
Di sinilah perguruan tinggi
kembali mempertimbangkan perannya. Kampus bukan hanya tempat menghasilkan
lulusan untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan saja. Pendidikan tinggi seharusnya
membentuk orang yang bisa berpikir secara kritis, memahami masalah-masalah di
sekitarnya, serta menggunakannya untuk menciptakan perubahan. Seorang mahasiswa
hukum, misalnya, tidak hanya perlu bisa menghafal aturan-aturan saja, tetapi
juga harus tahu bagaimana hukum itu berjalan di tengah masyarakat dan mengapa
belum semua orang merasa adil. Begitu pula dengan bidang ilmu lainnya.
Pengetahuan seharusnya tidak berhenti ketika seorang mahasiswa telah
mendapatkan ijazah.
Karena itu, keberhasilan
pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa cepat mahasiswa
menyelesaikan studi atau seberapa cepat lulusan mendapatkan pekerjaan.
Perguruan tinggi dan pemerintah memiliki tanggung jawab dalam memastikan
pendidikan memberikan persiapan yang sesuai, memberi kesempatan bagi mahasiswa
untuk berkembang, serta tidak hanya mengukur keberhasilan dengan angka dan
sertifikat saja. Jika pendidikan hanya fokus pada kebutuhan pasar, mahasiswa
bisa jadi terlihat seperti barang yang harus memenuhi syarat tertentu agar bisa
dijual atau diterima setelah lulus. Padahal, pendidikan memiliki tujuan yang
lebih luas daripada hanya membantu seseorang mempersiapkan diri untuk bekerja.
Empat tahun di perguruan
tinggi seharusnya tidak hanya berakhir dengan satu lembar ijazah dan persaingan
mencari pekerjaan saja. Ada pengetahuan yang seharusnya dimiliki, cara berpikir
yang seharusnya terbentuk, dan kesadaran untuk melihat permasalahan dari sudut
pandang yang lebih luas daripada kepentingan pribadi sendiri. Jadi, pertanyaan
“Kuliah empat tahun, lalu apa?” bukanlah pertanyaan yang mengartikan bahwa
kuliah tidak bermakna. Pertanyaan itu justru mengingatkan bahwa pendidikan
tinggi harus memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan
lulusan. Empat tahun seharusnya menjadi waktu untuk membentuk seseorang yang
tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap menghadapi kehidupan, memahami
berbagai masalah, dan berani bertanya apabila ada hal-hal yang perlu
diperbaiki.
Penulis: Wina Adelia
