Hal yang menjadi ironi tersendiri, jebakan disinformasi ini kerap kali tidak hanya menjerat masyarakat awam, tetapi juga menyeret kaum intelektual di bangku kampus, yakni mahasiswa
Sebagai kelompok yang diasumsikan memiliki nalar kritis dan literasi yang matang, mahasiswa nyatanya tak jarang ikut terjebak dalam arus amplifikasi digital
Kondisi ini menunjukkan bahwa menyandang status sebagai mahasiswa tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap hoaks dan disinformasi
Padahal, esensi dari pendidikan tinggi adalah melatih akal sehat, bukan untuk menelan mentah-mentah informasi yang datang, melainkan membongkar, menguji, dan mencari kebenaran di baliknya
Jika mahasiswa yang selama ini memegang predikat sebagai agen perubahan dan kontrol sosial justru ikut menjadi agen penyebar disinformasi, lantas siapa lagi yang akan menjaga kemurnian informasi publik? Kelalaian mahasiswa dalam menyaring informasi tidak hanya berdampak pada pembentukan opini publik yang sesat, tetapi juga berpotensi memecah-belah kohesi sosial di tengah masyarakat
Oleh karena itu, sudah saatnya mahasiswa merefleksikan kembali peran digitalnya di era kiwari
Mahasiswa harus berdiri di garis depan sebagai penyaring fakta, bukan sekadar penonton, apalagi penyebar kepanikan viral sesaat
Sebab, di era ketika kepalsuan bisa dikemas semenarik kebenaran, nalar kritis mahasiswa adalah benteng pertahanan terakhir bagi akal sehat bangsa
Fenomena krisis ini sangat nyata terjadi, sebagaimana dibuktikan oleh temuan riset media sosial dan peringatan tegas dari aparat penegak hukum baru-baru ini mengenai maraknya modus daur ulang video unjuk rasa lama yang dibingkai ulang untuk memanipulasi atensi publik
Penulis: Sella Ayu Prihatini
Editor: Dinda Putri Islamy & Samuel
