Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Darurat Literasi Digital: Ketika "Viral" Mengalahkan Nalar Kritis Mahasiswa

Kamis, 08 Oktober 2026 | Oktober 08, 2026 WIB Last Updated 2026-10-08T10:42:41Z


Media sosial hari ini telah bertransformasi menjadi ruang publik utama tempat pertukaran gagasan berlangsung. Namun, di balik kecepatan arus informasi tersebut, ekosistem digital kita tengah mengalami krisis serius. 


Fenomena daur ulang konten usang, seperti potongan video lawas, narasi lama, atau peristiwa bertahun-tahun lalu yang sengaja diunggah ulang tanpa keterangan waktu yang jelas,semakin marak berseliweran. Tujuannya acap kali hanya untuk mendulang atensi, menciptakan sensasi, hingga memicu kepanikan publik demi mendongkrak algoritma media sosial.

Hal yang menjadi ironi tersendiri, jebakan disinformasi ini kerap kali tidak hanya menjerat masyarakat awam, tetapi juga menyeret kaum intelektual di bangku kampus, yakni mahasiswa. 


Sebagai kelompok yang diasumsikan memiliki nalar kritis dan literasi yang matang, mahasiswa nyatanya tak jarang ikut terjebak dalam arus amplifikasi digital. Berita atau video sensasional langsung dibagikan atau dikomentari tanpa melalui proses verifikasi mendalam, semata-mata karena isunya sedang hangat atau terpancing sentimen emosional sesaat.


Kondisi ini menunjukkan bahwa menyandang status sebagai mahasiswa tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap hoaks dan disinformasi. Ketika kecepatan mengeklik dan menekan tombol "bagikan" lebih diandalkan daripada kedalaman analisis, fungsi kampus sebagai rahim pencetak pemikir kritis patut dipertanyakan. 


Padahal, esensi dari pendidikan tinggi adalah melatih akal sehat, bukan untuk menelan mentah-mentah informasi yang datang, melainkan membongkar, menguji, dan mencari kebenaran di baliknya.


Jika mahasiswa yang selama ini memegang predikat sebagai agen perubahan dan kontrol sosial justru ikut menjadi agen penyebar disinformasi, lantas siapa lagi yang akan menjaga kemurnian informasi publik? Kelalaian mahasiswa dalam menyaring informasi tidak hanya berdampak pada pembentukan opini publik yang sesat, tetapi juga berpotensi memecah-belah kohesi sosial di tengah masyarakat.


Oleh karena itu, sudah saatnya mahasiswa merefleksikan kembali peran digitalnya di era kiwari. Literasi digital bukan sekadar kepiawaian berselancar di media sosial atau menguasai teknologi terkini, melainkan kecakapan menyaring informasi dengan kepala dingin dan nurani yang jernih. 


Mahasiswa harus berdiri di garis depan sebagai penyaring fakta, bukan sekadar penonton, apalagi penyebar kepanikan viral sesaat. Kampus harus kembali dihidupkan sebagai ruang diskursus yang sehat, tempat nalar kritis tidak tunduk pada kecepatan jempol dalam menekan tombol bagikan.


Sebab, di era ketika kepalsuan bisa dikemas semenarik kebenaran, nalar kritis mahasiswa adalah benteng pertahanan terakhir bagi akal sehat bangsa. 


Fenomena krisis ini sangat nyata terjadi, sebagaimana dibuktikan oleh temuan riset media sosial dan peringatan tegas dari aparat penegak hukum baru-baru ini mengenai maraknya modus daur ulang video unjuk rasa lama yang dibingkai ulang untuk memanipulasi atensi publik.



Penulis: Sella Ayu Prihatini
Editor: 
Dinda Putri Islamy & Samuel

×
Berita Terbaru Update